Tampilkan postingan dengan label sbmptn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sbmptn. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juni 2017

Lulus SBMPTN Masuk ITB Umur 14 Tahun, Izzan Tak Pernah Sekolah Formal


Bocah bernama Musa Izzanardi Wijanarko menjadi sosok fenomenal dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017.

Bagaimana tidak, Izzan, sapaan akrabnya, diterima masuk menjadi mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Institut Teknologi Bandung ( ITB) di usianya yang baru 14 tahun.

Anak kedua dari pasangan Yanti Herawati (46) dan Mursid Wijanarko (46) ini ternyata tidak pernah bersekolah formal seperti orang kebanyakan.

Ijazah paket C yang didapatkannya pada tahun 2015 lalu menjadi modal untuk mengikuti SBMPTN 2017.

"Ijazah paket A (SD) diambil waktu dia umur 8 tahun," ujar Yanti saat dihubungi melalui ponselnya, Rabu (14/6/2017).

Yanti memaparkan alasan anaknya tidak pernah bersekolah resmi. Menurut dia, kejeniusan Izzan mulai terlihat ketika usiannya masih 3 tahun. Buku-buku tentang tokoh-tokoh fisika dan matematika menjadi bacaan wajibnya sehari-hari.

" Izzan pernah enggak naik dari TK A ke TK B karena waktu di sekolah alam cuma main terus enggak mau belajar dan tidak mampu mengikuti kegiatan di kelas. Akhirnya saya ajari sendiri di rumah," tutur Yanti.

Di rumah, Yanti mengajari Izzan membaca. Bahkan Izzan meminta ibunya untuk mengajarinya bermain catur hingga akhirnya permainan asah otak tersebut menjadi aktivitas rutin ibu dan anak ini.

Menginjak usia 6 tahun, Izzan bertambah cerdas. Bocah pengagum Newton ini pun kerap kali mempraktikkan hukum gravitasi dalam kegiatan sehari-hari.
" Izzan anaknya enggak bisa diam, tetapi kalau belajar matematika dia bisa tenang. Ternyata mengamati bagian dari belajar yang dilakukannya. Dia senangnya nabrak anak lain sampai jatuh. Dia juga sering nanya teori Newton tentang hukum benda-benda angkasa," sebutnya.

Secara intensif Izzan terus belajar sendiri matematika di rumah dengan ibunya sebagai mentor. Satu tahun berjalan Izzn pun mampu menyelesaikan soal-soal dan rumus matematika yang dipelajari anak-anak SMA.

"Matematika kelas 1 SD sampai kelas 1 SMA ditempuh dalam waktu satu tahun karena dia cuma belajar matematika saja. Tulisannya juga acak-acakan karenaa jarang nulis. Umur 7 tahun Izzan mulai belajar fisika," tuturnya.

Ilmu fisika terus dipelajari secara tekun oleh Izzan. Bahkan, di usianya yang masih 7 tahun dia mampu menyelesaikan soal-soal fisika setingkat kelas 3 SMP. Salah satu teori fisika yang dipejari oleh Izzan adalah teori fisika gasing.

Kewalahan

Yanti mulai kewalahan menanggapi rasa ingin tahu Izzan yang mulai membesar ketika usia putranya 8 tahun. Dia pun tidak mampu lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Izzan.

"Umur 8 tahun dia bisa menyelesaikan matematikan kelas 3 SMA. Pertanyaannya juga sudah mulai tidak bisa saya imbangi. Salah satu pertanyaannya adalah bagaimana menurunkan diferensial benda ke dimensi N," ujarnya.

Selain itu, Izzan yang masih berusia 8 tahun juga pernah mempertanyakan tentang matematika sudut bola.

"Saya tanya teman saya yang tamatan astronomi, kata dia itu dipelajari nanti pada tingkat 3 kuliah astronomi tentang sudut 3 dimensi," ungkapnya.

Yanti pun akhirnya bolak balik berkonsultasi dengan dosen-dosen matematika ITB seperti Agus Jodi dan Oki Neswan. Kedua dosen tersebut juga tidak mampu memberikan banyak solusi.

Oki Neswan pun menyuruh agar Izzan mengikuti SBMPTN agar bakatnya bisa diasah di ITB.

Dengan penuh kesabaran, Yanti pun membimbing Izzan selama beberapa tahun agar bisa ikut ujian persamaan untuk mengambil ijazah paket A hingga C.

Setelah berhasil mengambil ijazah paket C pada tahun 2015 lalu, Izzan sempat mengikuti SBMPTN pada tahun 2016. Sayang, Izzan gagal dan baru sukses pada tahun ini.

"Ikut tahun ini persiapannya juga cuma dua bulan," ucapnya.

Sumber : ptjvillage

Selasa, 13 Juni 2017

Pengumuman SBMPTN 2017


PENGUMUMAN PANITIA PUSAT SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI DAN SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI TAHUN 2017

NOMOR: 2/Peng.Panpus/2017
TENTANG PESERTA LULUS SBMPTN TAHUN 2017

Berdasarkan Keputusan Panitia Pusat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) Tahun 2017 Nomor 11/Kep.Panpus/2017 tentang Peserta Lulus SBMPTN Tahun 2017, tanggal 13 Juni 2017, dengan ini diumumkan bahwa Peserta yang Nomor dan Namanya tercantum dalam daftar terlampir atau tercantum pada laman resmi Panitia Pusat SBMPTN dinyatakan Lulus SBMPTN Tahun 2017, dengan penjelasan sebagai berikut.

1. Pengumuman hasil seleksi ini adalah satu-satunya pengumuman resmi Panitia Pusat SBMPTN Tahun 2017 yang dapat diakses melalui laman resmi Panitia Pusat SBMPTN, media cetak dan media online lainnya. Bila terdapat perbedaan data di antara media pengumuman tersebut di atas, yang menjadi rujukan adalah data Panitia Pusat SBMPTN yang disajikan pada laman resmi Panitia Pusat SBMPTN Tahun 2017.
2. Peserta SBMPTN Tahun 2017 yang dinyatakan lulus seleksi dalam Pengumuman ini harap segera melihat syarat penerimaan, ketentuan dan jadwal registrasi (daftar ulang) di laman resmi PTN penerima masing-masing.
3. Bagi Peserta Bidikmisi yang dinyatakan lulus SBMPTN Tahun 2017 akan diverifikasi dan diseleksi kelayakannya sebagai mahasiswa penerima bantuan pendidikan Bidikmisi sesuai dengan kuota.
4. Pengumuman ini tidak dapat diganggu gugat dan Panitia Pusat tidak menerima atau mengeluarkan surat menyurat terkait Pengumuman ini.

Demikian, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.


Diumumkan di Jakarta
pada tanggal 13 Juni 2017
KETUA,

Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS.
NIP 195707071981031006

================%================
Link Terkait : http://pengumuman.sbmptn.ac.id/
Download SK Pengumuman : https://drive.google.com/file/d/0B98gZ0KoiUMiX1J1OTJiYzRwOUk/view?usp=drivesdk

Minggu, 12 Februari 2017

EKO SIAM MUWARDI MENYAMBUNG MIMPI MELALUI BIDIK MISI 2014


Nama saya Eko Siam Muwardi, Mahasiswa Bidik Misi dari Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Kebahagiaan tidak terkira saat saya dinyatakan lolos SBMPTN melalui jalur Bidik Misi. Terlebih keluargaku sampai airmata pun tertumpah karena haru. Saya yang tinggal dengan kakek dan nenek di Gombong Selatan arah Pantai Karang Bolong ini, harus berusaha keras untuk medapatkan jatah Bidik Misi. Saya sebagai korban “broken home” harus menyakinkan orang tua saya yang berdomisili di Depok, untuk merestui saya kuliah.
Dengan mempersiapkan segalanya sendiri akhirnya saya bisa diterima menjadi mahasiswa Bidik Misi di FE UNY. Mungkin nasib mujur sedang menemuiku, karena tidak semua teman-temanku saat SMA bisa masuk kampus impiannya. Banyak dari mereka yang merogoh kantong dalam-dalam untuk biaya bimbel dengan iklan dan jargon mampu membantu sampai lolos PTN tapi nyatanya gagal juga. Kesempatan inipun lantas tidak saya sia-siakan guna menyambung mimpiku agar dapat menjadi seorang guru.

Menjadi mahasiswa memang hal yang dinanti, tapi kadang pula jika sudah masanya sangat melelahkan dan menguras tenaga. Begitu halnya dengan saya yang menjadi mahasiswa Pendidikan Ekonomi. Walaupun bukan bidang ekonomi murni, namun melelahkannya sama juga dengan yang murni. Setiap hari kami menghadapi rumus-rumus, data statistika, dan permasalahan ekonomi negera kita. Tentu hal ini sangat melelahkan dan membuat mahasiswa kadang patah semangat. Banyak dari mereka yang merasa salah jurusan dan ada juga yang pindah jurusan. Namun, segala kesusahan saya hadapi dengan menggarap Ridho sang illahi, sehingga saya mendapat IP yang cukup untuk ukuran mahasiswa ekonomi.
Ya.. memang IP-ku tergolong cumlaude saat ini, tapi perjuangan ini belum berakhir. Masih ada 4 semester lagi sebelum jatah Bidik Misi-ku berakhir. Berbagai cara aku tempuh selama 4 semester ini, dari aku minta tolong kepada kakak tingkat yang lebih pintar, sampai aku bela-belain menginap demi bisa materi yang disampaikan dosen. Siang malam berusaha bisa mengatur waktu agar bisa belajar, dan akhirnya saya bisa menempuh 4 semester ini. Tak jarang saya juga mengulang mmpelajari mata kuliah yang diberikan dosen.
Mahasiswa Bidik Misi bukanlah mahasiswa sempurna yang serba bisa, begitu pula diriku yang begitu terbatas. Namun keterbatasan ini berusaha aku perbaiki agar kesempatan mendapat Bidik Misi ini tidak berlalu dengan kesia-siaan.
Saya yang memang memiliki sifat aktif, mendarma baktikan sebagian masa kuliahku di organisasi mahasiswa FE. Sekarang saya menjadi pengurus BEM FE UNY—sudah 2 tahun saya menjadi pengurus. Memang dengan masuk organisasi kita semua menjadi orang yang lebih dibanding mereka yang tidak. Kita akan mendapat pengalaman, pengetahuan, dan relasi yang sangat berharga. Saya yang kini juga menjabat sebagai ketua Perhimpunan Mahasiswa Kebumen (Perhimak UNY) mendapat pembelajaran yang sungguh luar biasa. Terlebih di BEM, saya belajar bagaimana menjadi seorang ekonom yang mengawal kebijakan pemerintah dan menyalurkan hasil diskusi kami dengan sebuah forum yang sudah ada.

Saya juga bergabung dalam beberapa forum komunitas, salah satunya adalah komunitas debat. Pengalaman bagaimana saya menjadi pribadi yang mampu mengolah kata-kata saya dapatkan dari forum ini. Dengan forum ini pula saya mampu mengikuti kompetisi baik tingkat regional, maupun tingkat nasional. Selain mengajarkan bagaimana menyampaikan dan mempertahankan argumen, saya juga mendapat jaringan , informasi, dan relasi yang sangat banyak. Beberapa kampus telah aku singgahi dan banyak pula aku menambah daftar nama yang menjadi temanku di semasa kuliah ini. Sehingga mendharma bhaktikan diriku dalam kegiatan kemahasiswaan juga merupakan hal positif yang dapat kita semua lakukan.
Dapat dikatakan bahwa organisasi mahasiswa merupakan kawah candradimuka kita yang kedua setelah ruang kelas yang penuh dengan teori. Organisasi mahasiswa menyajikan kepada kita hal yang baru dengan pemikiran yang baru dan arti sebuah kata yang bernama mahasiswa. Aku yang pernah di amanahkan sebagai ketua KPU FE UNY menjadi paham akan pentingnya berdemokrasi, pentingnya memilih dalam pemilu, dan tahu akan tata cara penyelanggaraan pemilu. Selain itu kita juga dapat ilmu yang tak kalah pentingnya dari ruang kelas jika kita terjun ke dalam organisasi mahasiswa.
Dengan aktif di organisasi saya menjadi terbuka informasi terutama akan lomba dan kompetisi yang lain. Berbagai lomba telah aku ikuti, baik lomba menulis maupun lomba debat. Pernah aku ke beberapa kampus untuk mengikuti perlombaan. Aku yang merupakan mahasiswa Bidik Misi ini kadang terkendala masalah dana jika ingin lomba. Ya maklum saja dana yang di sediakan kampus kita memang ada batasnya. Dari Jakarta sampai Surabaya telah aku singgahi untuk ikut lomba, pernah menang juga banyak juga yang berakhir dengan kekalahan. Kemenangan lomba pertama aku peroleh saat baru masuk semester 2 saat itu, saya dan kawan tim ku mengikuti lomba debat tentang ekonomi di UMY.
Meskipun perlombaan tersebut hanya tingkat provinsi namun cukup berat juga. Saat itu memang kami cukup berhasil, kami yang di dominasi oleh mahasiswa baru mampu menjadi juara satu dalam perlombaan itu. Perang pendapat tentang ekonomi dapat kami menangkan sampai di final dan pulang dengan membawa piala.
Kemudian saya juga pernah menjuarai lomba menulis essay tingkat nasional. Lomba ini berlangsung di kampusku sendiri, cuman beda fakultas. Dengan analisis mengenai pendidikan kepada masyarakat yang cukup menjanjikan keberhasilan, saya mampu memperdaya dewan juri untuk menempatkanku pada posisi ke 3. Untung saja saya menang, karena dana Bidik Misi yang terlambat cair, dan uang di ATM tinggal Rp. 50.000,- sehingga bisa menambah biaya hidupku ke depan. Namun, ternyata uang yang aku dapat dalam lomba tersebut harus saya gunakan untuk mengikuti lomba di ITS Surabaya, dengan menunggang kereta ekonomi kita sampai di kota pahlawan tersebut.
Dengan analisis isu dan permasalahan yang kami olah dengan jeli, dan dengan kemampuan bertutur kata yang kami pahat di komunitas, kami berusaha menampilkan yang terbaik. Sebagai mahasiswa ekonomi ini merupakan tantangan bagi aku dan timku untuk membuktikan siapa yang terbaik. Terlebih, fakultasku yang mengaku menjunjung tinggi ekonomi kerakyatan, perlombaan ini merupakan uji coba keberhasilan fakultasku dalam membina ekonom mudanya yang berjiwa ekonomi kerakyatan. Dan akhirnya kami mampu membawa pulang piala dan penghargaan lainya. Dengan kemampuan kami dalam memberikan dan mempertahankan argumen kami, mampu menyakinkan dewan juri untuk menjadi yang terbaik.
Kami berhasil menjadi juara satu dalam lomba ini, syukur dan haru bercampur dengan bahagia terlebih untuk diriku yang dana Bidik Misi-nya belum cair. Ini merupakan rezeki yang cukup untuk biaya hidupku ke depan. Bahagia semakin nyata terlihat ketika foto kami saat memegang piala kemenangan di pajang di depan Rektorat, ya mungkin itu cara dari birokrasi untuk memberikan penghargaan kepada kami.
Mungkin banyak sekali kisah yang lebih menginispirasi dari pada kisahku. Aku yang baru berjalan 4 semester masih terlalu dini untuk dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi. Masih banyak hal yang belum diraih dan dicapai untuk mendapat predikat tersebut. Namun tidak ada salahnya berbagi dengan teman-teman terutama Mahasiswa Bidik Misi. Tidak ada ilmu yang mubazir jika kita mensyukurinya. Dan ingatlah teman-teman, berprestasi bukan hanya saat kita mampu mengangkat piala dan berhasil meraih IPK tinggi semata. Berbuat baik, menjadi lebih baik, dan menjalankan tugas kita sebgai mahasiswa dengan baik dan benar itu juga termasuk prestasi.

Selamat berprestasi! Demikian kisahku, bagaimana kisahmu?
**) Eko Siam Muwardi, Pendidikan Ekonomi 2014

Komputasi bisa diartikan sebagai cara untuk menemukan pemecahan masalah dari data input dengan menggunakan suatu algoritma. Hal ini ialah ...